Review Film 2023: Air Mata di Ujung Sajadah

Spoiler : Bukan Film Poligami

Sarah N Aini
3 min readSep 24, 2023

Awal melihat judul ini, saya menyangka kalau film ini pasti tentang poligami. Karena tokoh utamanya Fedi Nuril, Citra Kirana, dan Titi Kamal. Bayangan saya lalu terlempar ke film Ayat-ayat Cinta, tiga tokoh yang sekilas digambarkan sama dengan film yang akan saya ulas ini.

“Nonton ini, yuk!” Ajak seorang teman suatu hari.

“Nggak ah, palingan tentang poligami kan?”

“Ih, sotoy! Bukan tau! Itu tentang ibu dan anak.” Penjelasan singkat dari teman saya ini membuat hasrat ingin menonton mulai muncul.

Cerita bermula ketika seorang mahasiswi berduaan dengan kekasihnya, lalu ia pulang malam dengan mengendap-endap di ruang tamu, seketika lampu menyala dan si mahasiswi tadi — Qila namanya — kepergok sang ibu lalu dimarahi.

Penyampaian awal yang klise ala sinetron dan ftv jadul, dilanjutkan dengan debat mengenai apa artinya cinta karena Qila memilih berpacaran dengan anak yatim piatu miskin

“Mau dikasih makan apa kamu nanti, hah?! Makan tuh cinta!” dialog seperti ini bisa kita temukan dalam sinetron-sinetron habis magrib yang saya rasa membuat pembuka film menjadi cukup membosankan.

Cerita perjalanan hidup Qila dan sang kekasih yang akhirnya kawin lari juga terasa sangat cepat. Tanpa babibu, sang kekasih yang sudah menjadi suaminya meninggal karena kecelakaan sehabis beli martabak telur dengan 4 telur bebek. (Tim martabak telur pake telur bebek mana suaranya?)

Qila ingin menyampaikan kabar gembira kalau ia sedang hamil, ia menunggu suaminya pulang sambil memegang alat tes kehamilan dengan gelisah, adegan ini semakin memperkuat bahwa akan terjadi sesuatu pada suami Qila. Dan ternyata benar! Martabak telur itu berhamburan tanpa sempat dimakan :’(

Kisah hidup yang dialami Qila memang menyedihkan, seperti halnya sinetron dengan tokoh utama wanita yang menderita tak berkesudahan, berdoa di atas sajadah di tengah malam. Qila juga tidak sempat bertemu anak yang dilahirkannya karena ibunya Qila memberikan cucunya pada karyawan suaminya — Fedi Nuril dan Citra Kirana — pasangan suami istri yang tidak bisa memiliki anak.

Terlepas dari alur cerita yang mudah ditebak karena sering mendapatinya dalam sinetron, tokoh utama yang dibuat menderita juga second lead (Fedi Nuril sekeluarga) dibuat sama-sama memiliki konflik yang kuat. Mungkin karena berasal dari konflik internal yang sama-sama berkecamuk, sehingga penonton dibuat berpihak pada salah satu kubu. Tapi keberpihakan kita pada salah satu kubu juga menjadi serbasalah, karena keduanya memiliki konflik yang sama-sama kuat. Qila dengan kesendiriannya ingin bertemu anaknya yang sudah 7 tahun dianggap meninggal dan Fedi Nuril serta istri dengan ketakutan mereka kehilangan anak semata wayang yang sudah mereka sayangi sepenuh hati.

Pergolakan batin yang mereka sampaikan benar-benar sampai di hati, membuat saya sendiri merasa mereka sama-sama jahat dan egois atas keinginan memiliki Baskara — anak yang sedang diperebutkan.

Namun di sisi lain, saya juga dapat merasakan bagaimana jika saya berada di posisi keduanya, sama-sama enggan melepaskan karena rasa sayangnya sama-sama besar.

Hal lain yang unik dari film ini adalah tidak ada tokoh yang dibuat bahagia sempurna, ada ending yang menurut saya epik dan terpaksa menguras air mata. Bukan hanya perkara kesedihan para penonton yang melihat seorang anak harus terpisah dari ibunya, namun juga karena pergolakan batin dua orang ibu yang sama-sama tulus. Rasa yang ingin disampaikan para sineas menurut saya sangat sampai ke hati.

Terdapat hal detail yang menambah film ini terasa hangat, yaitu kebersamaan keluarga Fedi Nuril dan Citra Kirana yang ngeblend dengan Jenny Rachman — artis senior yang turun gunung lagi di film usai 11 tahun vakum.

Terutama sisi parenting Citra Kirana dan Fedi Nuril yang memberikan tangki kasih sayang yang banyak pada Baskara, mengantar sekolah berdua, Fedi Nuril yang ikut membantu menyiapkan makan malam dan mencuci piring, bahkan saling menguatkan saat Baskara diinginkan oleh Qila, ibu kandungnya.

Saya tentu akan merekomendasikan film keluarga ini pada kalian yang sedang haus akan ilmu parenting, karena bukan disampaikan secara naratif atau teoritis, namun disampaikan secara tersirat melalui adegan dan dialog yang tidak terlalu kaku.

Selanjutnya, film apa lagi yang bisa diulas?

SNA

Bandung, 24 September 2023

--

--

Sarah N Aini
Sarah N Aini

Written by Sarah N Aini

bekerja adalah untuk menabur manfaat, bukan untuk dilihat.

Responses (2)